Islam, Sains, dan Naturalisme: Di Mana Konfliknya?

Setelah dua bulan sejak awal pandemi korona saya baca-baca literatur tentang agama-dan-sains, saya berkesimpulan bahwa apa yang acap kali disebut “konflik” antara agama dan sains, bila diperas intinya, sebenarnya hanya terjadi dalam dua aras saja, yakni penciptaan (kosmologi dan evolusi) dan kausasi (“hukum alam” dan isu mukjizat).

Khusus menyangkut Islam, dua ranah itu menyasar dua ajaran fundamental (ushul): yang pertama pada keyakinan akan adanya Yang Ilahi dan yang kedua pada doktrin tentang kenabian. Agama-agama Abrahamik berbagi isu ini, tentu dengan perbedaan dalam rinciannya. Dalam Islam, doktrin tentang keilahian dan kenabian ini tercermin dalam deklarasi keislaman seseorang, yakni kalimat syahadat. Dua doktrin ini bersifat tetap (tsawabit) dan tidak akan berubah sepanjang Islam senantiasa eksis di muka bumi. Continue reading

Saintisme Bukan Istilah Peyoratif

Sebagian orang menolak penggunaan kata “saintisme” (scientism) karena maknanya peyoratif, dengan pengertian ia biasa dipakai untuk merendahkan penemuan ilmiah yang menentang keyakinan (seringnya keyakinan keagamaan) seseorang. Benarkah demikian?

Jika maksud klaim itu merujuk pada penggunaannya dalam perbincangan publik umum, mungkin benar dalam sebagian kasus. Tapi jika maksudnya adalah penggunaannya dalam perdebatan akademis, atau lebih khusus lagi dalam wacana agama-dan-sains, tidak. Ia absah sebagai sebuah deskripsi tentang suatu posisi filosofis tertentu. Continue reading

Tasalsul (2)

Sebelum membaca tulisan berikut, sebaiknya Anda membaca tulisan sebelumnya, Tasalsul (1), karena tulisan ini dibuat sebagai tanggapan terhadap pertanyaan yang muncul dari tulisan pertama.

Satu pertanyaan yang saya dapati muncul dari beberapa orang di media sosial terhadap tulisan pertama adalah: mengapa tidak mungkin alam ini ada melalui regresi sebab yang takberhingga (infinite regress atau tasalsul)? Continue reading

Tasalsul (1)

Bila segala sesuatu ada karena diciptakan, dan alam semesta ini ada karena diciptakan Tuhan, siapa yang menciptakan Tuhan?

Pertanyaan semacam ini biasanya muncul karena si penanya belum memahami bahwa regresi takberhingga (infinite regress atau tasalsul) akan membawa pada tiadanya alam semesta ini, dan karenanya mustahil. Why? Limadza? Continue reading